11 March 2009

108 Kata Perenungan














Oleh : Master Shih Cheng Yen
Penerbit : Lembaga Penerbitan Kebudayaan Tzu Chi

  1. sebuah tindakan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan ribuan ucapan
  2. walaupun memiliki impian dan harapan pada masa berabad-abad kedepan, namun jangan sampai mengabaikan hal yang ada pada saat sekarang
  3. kepintaran adalah kemampuan untuk membedakan mana yang menguntungkan dan merugikan. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah
  4. jangan pusingkan apakah orang akan memperbaiki perilaku atau sikap buruknya, yang terpenting adalah kita tetap melatih diri dengan sebaik mungkin
  5. selalu mengejar kenikmatan materi adalah sumber penderitaan manusia. Menderita bila tak bisa memperolehnya dan bila bisa memperolehnya akan merasa belum puas. Semuanya merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir
  6. sumber penderitaan manusia adalah nafsu keserakahan untuk memiliki. Bila tak bisa memperoleh yang diinginkannya, dia akan menderita, namun bila telah memperolehnya, dia juga akan menderita karena takut kehilangan
  7. pikiran dan perilaku kita sendiri yang menciptakan dan menentukan surga dan neraka
  8. sumber penderitaan manusia ada 3, yaitu keserakahan, kebencian dan kebodohan
  9. hanya orang yang menghargai dirinya sendiri yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati
  10. tak perlu merasa khawatir atas banyaknya masalah, yang perlu dikhawatirkan hanya masalah yang sengaja dicari-cari
  11. orang yang tidak mempunyai hak milik atas nyawanya, melainkan hanya memiliki hak untuk menggunakannya
  12. orang berbudi luhur mempunyai tujuan hidup, sedang orang yang berpikiran sempit menganggap hidup sebagai tujuan

Malaikat Kecil


Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran:
"Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata:
"Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
"Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." agak ragu2 sejenak... "....akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku? "

Aku menjawab: "Oh, pasti sayang".

Sindu: "Betul ayah?"

"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "janji" kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata:
"Sindu, jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang."

Sindu: "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya..

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata: "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!"

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: "Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak."

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya: - "Tidak ada 'yah, tak ada keinginan lain."

Aku coba memohon kepada Sindu:
"Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!"

Sindu, dengan menangis, berkata:
"Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: "Janji kita harus ditepati.."

Secara serentak istri dan ibuku berkata: "Apakah aku sudah gila?"

Aku: "Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: "Sindu, tolong tunggu saya."

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: "Anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia."

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya:
"Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih!

10 March 2009

Jari Telunjuk Bukanlah Sang Rembulan



Jalur Tua Awan Putih: Menelusuri Jejak Langkah Buddha
Y.A. Thich Nhat Hanh:
Diterjemahkan oleh: Jimmy Lominto


Suatu siang Sariputta dan Moggallana membawa seorang sahabat, petapa Dighanakha, datang menemui Buddha. Dighanakha sama termasyurnya seperti Sanjaya. Dia juga merupakan paman Sariputta. Ketika dia mengetahui keponakannya telah menjadi murid Buddha, ia menjadi ingin tahu ajaran Buddha. Sewaktu dia meminta Sariputta dan Moggallana untuk menjelaskan ajaran kepadanya, mereka menyarankannya untuk langsung bertemu dengan Buddha saja.

Dighanakha bertanya kepada Buddha, "Gotama, apakah ajaranmu? Apa saja doktrinmu? Kalau aku sendiri, aku tidak menyukai semua doktrin dan teori. Aku tidak mempercayai semuanya itu.

Buddha tersenyum dan bertanya, "Apakah engkau mempercayai doktrin untuk tidak mengikuti doktrin apa pun itu yang merupakan doktrinmu sendiri itu? Apakah engkau meyakini doktrin tidak mempercayai yang adalah doktrinmu sendiri?"

Agak terperana, Dighanakha menjawab, "Gotama, apakah aku meyakini atau tidak meyakini itu tidaklah penting?"

Dengan lembut Buddha berkata, "Sewaktu seseorang terjerat kepercayaan terhadap suatu doktrin, ia telah kehilangan kebebasannya. Manakala seseorang menjadi dogmatik, ia meyakini dokrin miliknya merupakan satu-satunya kebenaran sedangkan semua doktrin lainnya adalah kesesatan. Berbagai sengketa dan konflik, semuanya itu timbul dari pandangan-pandangan yang sempit. Berbagai sengketa dan konflik akan berkembang tanpa akhir, menyia-nyiakan waktu yang berharga dan kadang bahkan mengakibatkan peperangan. Kemelekatan pada berbagai pandangan merupakan hambatan terbesar di jalur spiritual. Terikat pada pandangan-pandangan sempit, seseorang menjadi sedemikian kusutnya sehingga tak mungkin lagi mengijinkan terbukanya pintu kebenaran.

"Mari kuceritakan engkau sebuah kisah mengenai seorang duda muda yang hidup bersama putranya yang berusia lima tahun. Dia menyayangi putranya melebihi jiwanya sendiri. Suatu hari dia meninggalkan putranya di rumah sementara ia keluar berniaga. Tatkala dia pergi, datanglah segerombolan perampok yang merampok dan membumihanguskan seluruh desa. Mereka menyandera putranya. Tatkala pria itu kembali ke rumah, ia menemukan sesosok jenasah anak kecil yang hangus terbakar terbujur di samping rumahnya. Dia mengira jenasah itu adalah putranya sendiri. Dia menjerit tangis dalam duka lalu mengkremasikan sisa jenasah itu. Karena teramat sangat mengasihi putranya, maka ia pun menyimpan abu jenasah itu ke dalam sebuah kantong yang selalu dibawanya serta kemana pun ia pergi. Beberapa bulan kemudian, putranya berhasil melarikan diri dari tawanan para perampok dan kembali ke rumah. Dia tiba di tengah malam lalu mengetuk-ngetuk pintu rumah. Pada momen itu, sang ayah sedang memeluk erat-erat kantung abu sambil menangis tersedu-sedu. Dia menolak membukakan pintu rumah meskipun anak itu telah meneriakkan bahwa dirinya adalah putranya. Dia meyakini putranya telah mati dan anak yang sedang menggedor-gedor pintu itu adalah anak di lingkungan sekitar yang sedang mengejek kesedihannya. Akhirnya putranya tak ada pilihan lain kecuali pergi sendirian. Dengan demikian ayah dan anak itu saling kehilangan satu dengan lainnya untuk seterusnya.

"Engkau lihat sahabatku, jika kita melekat pada suatu kepercayaan dan menganggapnya sebagai kebenaran yang mutlak, suatu hari akan kita temukan diri kita berada dalam situasi yang serupa dengan duda muda tersebut. Berpikir bahwa kita telah memiliki kebenaran, kita tak mampu lagi membuka pikiran kita untuk menerima kebenaran, bahkan di kala kebenaran sedang menggedor-gedor pintu kita."

Dighanakha bertanya, "Tapi, bagaimana dengan ajaranmu sendiri? Jika seseorang mengikuti ajaranmu akankah ia terjerat ke dalam pandangan-pandangan sempit?"

"Ajaranku bukanlah suatu doktrin atau filosofi. Ajaranku bukanlah hasil pemikiran diskursif ataupun rekayasa mental seperti berbagai filosofi yang telah merasa puas bahwa esensi fundamental alam semesta adalah api, air, tanah, ataupun roh, atau bahwa alam semesta tidaklah terbatas atau tanpa batas, bersifat sementara ataupun kekal. Rekayasa mental dan pemikiran diskursif mengenai kebenaran bagaikan semut-semut yang berjalan mengelilingi bibir mangkuk--mereka tak akan pernah sampai ke mana-mana. Ajaranku bukanlah suatu filosofi. Ajaranku merupakan hasil pengalaman langsung. Hal-hal yang kukemukakan berasal dari pengalamanku sendiri. Engkau dapat mengkonfirmasikan semuanya melalui pengalaman langsungmu sendiri. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tidaklah kekal dan tanpa diri yang terpisah. Ini telah kupelajari dari pengalaman langsungku sendiri. Engkau juga bisa. Aku mengajarkan bahwa segala sesuatu tergantung pada segala sesuatu lainnya untuk muncul, berkembang, lalu menghilang. Tak ada sesuatu pun yang diciptakan dari satu sumber yang tunggal dan orisinil. Secara pribadi aku telah mengalami kebenaran ini dan engkau pun juga bisa. Tujuanku bukanlah untuk menjelaskan alam semesta melainkan membantu memandu orang-orang lain untuk mendapatkan pengalaman langsung akan realita. Kata-kata tak mampu melukiskan realita. Hanya pengalaman langsung yang memungkinkan kita untuk melihat wajah sejati realita."

Dighanakha berseru, "Menakjubkan, sungguh menakjubkan, Gotama! Tapi, bagaimana jika seseorang menangkap ajaranmu sebagai suatu dogma?"

Buddha terdiam sejenak lalu mengangguk-anggukkan kepala. "Dighanakha, ini sungguh suatu pertanyaan yang sangat baik. Ajaranku bukanlah suatu dogma ataupun doktrin, namun, tak diragukan lagi akan ada orang yang menangkapnya demikian. Aku harus menegaskan secara jelas bahwa ajaranku adalah suatu metode untuk mengalami realita bukan realita itu sendiri, seperti jari telunjuk yang sedang menunjuk ke rembulan, bukanlah rembulan itu sendiri. Seseorang yang cerdas menggunakan jari telunjuk untuk melihat rembulan. Seseorang yang hanya melihat jari telunjuk dan mengiranya sebagai rembulan tak akan pernah melihat rembulan yang sebenarnya. Ajaranku adalah cara-cara untuk berlatih, bukan sesuatu untuk dipegangi erat-erat atau disembah-sembah. Ajaranku bagaikan sebuah rakit untuk menyeberangi sungai. Hanya orang bodoh yang akan memanggul rakit setelah ia berhasil tiba di tepi seberang, pantai pembebasan."